Sholat Eid-Al-Fitr kali ini, saya sholat di Grand Mosque, Abu Dhabi. Nama lengkapnya Sheikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan Mosque, tapi dipanggil Grand Mosque aja.. cukup!

Grand Mosque Abu Dhabi (untuk sementara ini) merupakan masjid terbesar di UAE dan ke-6 terbesar sedunia. Nggak tahu juga sejak kapan dibangun (kata orang-orang sih sudah dalam proses pembangunan sejak 5 tahun yang lalu) tapi yang jelas mulai diresmikan dan dibuka untuk publik sejak tahun 2007 (http://en.wikipedia.org/wiki/Sheikh_Zayed_Mosque#cite_note-1 ). Sejak dibuka itu juga saya sudah kepingin sholat disana, tapi rencana-rencana tanpa realisasi… akhirnya berangkat juga hari minggu pagi untuk sholat Eid… sendirian.

Masuk halaman masjid, sudah terlihat antrian mobil-mobil untuk parkir atau drop off. Di halaman depan, terlihat tentara UAE berjaga-jaga lengkap dengan senjatanya. Matanya sibuk memperhatikan tiap pengunjung yang datang. Oops, garang amat! Saya berjalan cepat. Hati ini deg-degan juga, soalnya dilihat dari jauh kok cuma para pria yang memasuki gerbang depan. Terus wanitanya bagian mana nih? Untungnya, saya melihat 3 orang wanita Arab berombongan. Saya mempercepat langkah, membarengi langkah mereka. Sambil melepas senyum, saya ucapkan salam. Alhamdulillah.. ada barengannya juga.
Tiap pengunjung yang datang terlihat antri, saya pikir mungkin didalam ditata shof-shofnya. Saya ikuti para wanita-wanita Arab itu berjalan, melewati antrian para pria, kemudian melewati…. Security check! Oalaaah… baru kali ini saya mau sholat Ied harus diperiksa dulu, serasa di bandara. Bapak-bapak petugas menyetop saya untuk menaruh tas mukena di x-ray machines. Ya Allah Bapaaak, saya ini jamaah sholat, bukan teroris! Tapi maklum juga sih, pak presiden UAE bersama para sheikh dan sheikha bakal sholat juga disini.

Setelah sukses melewati security, aku jalan cepat memasuki masjid. Begitu memasuki pintu gerbang… Subhanallah! Cantiknyaaa…. Ukiran-ukiran di dinding dan langit-langit masjid begitu indah dan intricate … khas desain ala Arabia. Di dalam, orang-orang berjalan lalu-lalang, mengagumi keindahan masjid. Ada juga yang berfoto-foto ria. Berhubung wanita-wanita Arab sudah jauh di depan, aku mempercepat langkah melalui koridor yang panjang. Akhirnya sampai juga di tempat sholat khusus wanita. Beberapa orang bersama anak-anak duduk di teras depan, menunggu waktu sholat. Aku bergegas menuju pintu masuk, takut nggak dapat tempat. Ada dua penjaga di pintu depan, yang langsung menyilangkan tangannya.. tidak memperbolehkan aku masuk. Loh? “Please wear abaya. Its available there,” kata sang penjaga sambil menunjuk ke arah tumpukan abaya (jubah hitam khas wanita arab). Aku kaget juga, “I have to wear abaya? I have my mukena with me. Can I wear that instead?” tanyaku. Sumpah, aku nggak tahu bahasa Inggrisnya mukena.. hahaha. Wanita penjaga yang satunya langsung menyahut, “She has mukena, its ok. Pakai disini dulu aja mbak, baru bisa masuk kedalam,” oooo.. ternyata Indonesia juga toh! Alhamdulillaaah… “Ma kasih ya mbaak,” kataku lega. Sambil mengeluarkan mukena dari dalam tas. Beberapa wanita Arab yang duduk di teras memandangku heran. Belum pernah lihat orang pakai mukena ya, Bu? Hehehe. Akhirnya… sampai juga di dalam masjid!

Ternyata…. Di dalam kosoong! Ruangan sebesar itu hanya diisi kira-kira 3 shof, itupun duduknya jarang-jarang. Ada 2 orang wanita menggunakan mukena duduk didalam, kepingin sih duduk dekat mereka tapi kiri-kanan nya sudah diisi orang lain. Ya sudah, Cuma saling melempar pandang dan bertukar senyum. Aku taruh barang-barang, lalu sholat Tahiyatul Masjid.
½ jam kemudian, takbiran berhenti. Semua orang berdiri, mulai mengatur posisi. Terdengar suara Imam, dan aku masih tolah-toleh. Loh.. loh.. kok sudah takbir ke-3? Kok nggak dikasih waktu barang sejenak untuk atur posisi dan shof toh, paak? Bukannya kita harus berdiri berdekatan, kalau mungkin tidak ada jarak sama sekali dengan samping kiri dan kanan?
Anyway, sholat sudah dimulai. Surat yang dibaca pun surat pendek. Lima menit kemudian, sholat selesai. Ceramah dimulai, dengan bahasa Arab. Walaupun asli nggak ngerti, aku berusaha duduk diam. Mendengarkan. Kulihat kanan-kiri, ada yang ngobrol.. kebanyakan sibuk dengan HP. Oalaah… benar-benar sudah termakan modernisasi!

15 menit kemudian, ceramah selesai. Para jamaah berbondong-bondong keluar. Tidak ada salam-salaman, nothing. Jangankan Minal Aidzin atau lahir bathin, kata-kata “Eid Mubarak” (selamat merayakan Eid) pun tak sempat terucap. Aku bengong. Miris. Sedih. Aku hampiri kedua wanita ber-mukena, mengucapkan minal aidzin wal faidzin dan bersalaman. Ternyata mereka dari Malaysia. Tetep aja, senang juga ketemu teman serumpun.
Selesai sholat, ternyata banyak juga yang datang terlambat. Sebagian langsung sholat Tahiyatul Masjid, sebagian Cuma berfoto-foto, lalu keluar lagi.

Aku baru ngerti, kenapa (mungkin) orang-orang Indonesia lebih suka sholat di Kedutaan-Abu Dhabi atau di Konsulat-Dubai. Denger-denger dari teman di Dubai sholat di konsulat rame sekali, ternyata banyak juga orang Indonesia di UAE. Ternyata bukan masalah tempatnya, tapi masalah indahnya kebersamaan… indahnya salam-salaman… indahnya mengucap Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir batin. Serasa batin ini ringan & bahagia… kembali ke fitrah.

Apa salam-salaman dan takbiran cuma masalah kebudayaan? Entah juga. Tapi itu sunnah Rasulullah loh!

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah dari Grand Mosque, hati ini rasanya kosong. Telepon ke Indonesia raya network error melulu , dari no telp rumah, sampai HP-HP dihubungi semua tetep nggak tembus. Pada sibuk telpon-telponan mengucap lahir batin pastinya ya? Beda banget sama suasana disini yang sepi. Its just like any other holiday. Mungkin dirumah orang-orang Arab suasananya lebih ramai. Entah juga.

Dalam hati aku bertekad, Lebaran tahun depan… pulang aaaahhh!! Rindu sholat Eid di Masjid kecil nan asri deket rumah, sekelilingnya masih sawah… tapi paling enggak… hati ini adem. Walaupun masjid kecil, paling enggak penuh waktu sholat Eid. Paling enggak, sempet salam-salaman ke semua orang yang disambut senyum ramah. Paling enggak, pulang ke rumah hati ini nyaman dan bahagia…

Betapa indah ber-lebaran di Indonesia. Percayalah.

Allahu akbar.. Allahu akbar… Allahu akbar, walillah-ilham.

– Wuri

Advertisements

RAMADAN @ABU DHABI (Part 1)

September 27, 2009

Aku pertama kali menjumpai Ramadan di negeri orang 3 tahun lalu. Denger-denger dari para expat, mereka sangat menunggu-nunggu kedatangan Ramadan. Ya iya lah, Ramadan di negeri Arab gitu loh! Pastinya istimewa. 2 hari menjelang Ramadan, HR & Admin Dept sudah mengeluarkan memo kalau jam kerja selama Ramadan dipangkas Cuma 6 jam per hari, sesuai dengan aturan pemerintah. Yihuuuiiii!

Hari pertama Ramadan, biasanya masjid bakalan ramai untuk sholat Tarawih. Keramaian berlangsung sampai jam 3 pagi, menjelang sahur. Ada beberapa anak-anak yang berkeliling untuk membangunkan sahur. Lampu di rumah-rumah menyala, orang-orang sibuk menikmati santap sahur hingga Imsak berkumandang, kemudian para pria berbondong-bondong menuju masjid untuk sholat Subuh. Terus biasanya.. sepanjang hari masjid-masjid selalu mengumandangkan bacaan Al-Quran, terutama saat weekend dan menjelang maghrib. Ya, nadanya kadang-kadang sumbang sih, namanya juga yang baca sukarelawan. But the point is, itu membuat suasana Ramadan jadi berbeda…

But… nope!! Gambaran diatas justru bukan Ramadan di negeri Arab, tapi ingatanku akan Ramadan di negeri sendiri. Ramadan disini yang terasa berbeda hanya karena jam kantor berkurang dan toko-toko tutup hingga saat buka puasa tiba. That’s it. Saat sahur sepi, tidak ada imsak… masjid langsung mengumandangkan Adzan untuk sholat Shubuh. Seperti hari-hari biasa. Saat buka juga seperti biasa, hanya lebih sepi karena jika hari-hari biasa jalanan penuh dengan orang-orang pulang kantor… saat Ramadan orang-orang pulang kantor jam 2 atau 3 siang. Mall-mall marak dengan diskon… ah.. sepertinya mall akan selalu marak dengan diskon, nggak cuma saat Ramadan doang. Dari spring, summer, autumn, atau winter collection (halaaah… perasaan disini juga summer terus, kapan mau pake baju ala winter? Hehehe).

Di kantor juga masih tetap sama, bedanya cuma tidak ada jam makan siang dan tidak boleh (strictly!) ada makanan minuman terhidang di meja… bahkan untuk staff beragama lain. Kalau mau, ke pantry dan minum/makan sembunyi-sembunyi. Errr.. tapi perasaan pak GM baru pesen turkish coffee (kopi tubruk ala Arab) ke office boy yang saat si cangkir berisi turkish coffee dibawa ke ruangan pak GM, bau harumnya kemana-mana. Hmmm… atau mungkin turkish coffee dihalalkan saat puasa? Huahaha… wolak-walik e jaman!

Saat Ramadan, kaum bisnis juga memanfaatkan momen ini untuk mengadakan Iftar Party (acara buka puasa bersama). Bagus juga sih, kesempatan makan-makan gratis dan ketemu orang-orang dari kantor cabang/site offices. Lagian, Iftar Party selalu diadakan di hotel bintang 5. Loh.. tapi kok yang datang… pakai mini, sleeveless, bahkan…. Backless? Ini iftar party atau dinner party? Mboh wis. Mungkin di undangan Iftar Party ‘lupa’ disebutkan dress code nya yah? Berarti orang Indonesia lebih cerdas dong, nggak perlu disebut dress code sudah pasti bakalan pakai baju sopan dan paling enggak kerudung saat ke acara buka puasa bersama. Iya kan? Atau sekarang Indonesia juga sudah ketularan Abu Dhabi/Dubai? Jangan deeehh..! Acara buka buasa bersama di Indonesia yang rentetannya buka puasa – sholat Maghrib – sholat tarawih – makan malam bersama di rumah salah seorang rekan, jauh lebih indah daripada buka puasa bersama di hotel bintang 5 yang sumpah bikin bosen setengah mati!

Ramadan di kota majemuk seperti Abu Dhabi (jangan tanya tentang Dubai, pastinya lebih parah!) walaupun notabene adalah negara Islam, ternyata sudah ter-tolerir dengan modernitas dan kebutuhan jaman. Mall-mall justru tampak lebih meriah saat Natal, biasanya hiasan Natal sudah dipasang sejak bulan Oktober. Mohon maaf untuk yang beragama kristen, bukan bermaksud untuk menjadi diskriminatif … hanya ingin menggambarkan bahwa disini masalah agama dan kultur tidak lagi menjadi pertimbangan utama. It’s just business, nothing personal (gitu katanya pak Donald Trump .. hehehe).

Walaupun begitu, jujur nih, tinggal di negara majemuk nan maju seperti UAE menyenangkan juga di sisi keamanan dan sistem yang tertata. Polisi benar-benar bertindak sebagai polisi. Peraturan adalah peraturan, nggak ada acara bisik-bisik sama pak Polisi atau pak Hakim atau pak Pengacara sambil nyelipin lembaran dirham. Ketahuan korupsi? Pecat, bayar denda, deportasi. Berat hukumannya.

Di khayalanku nih… kepinginnya Indonesia dan UAE digabung jadi satu.. jadi Republic Indonesian Emirates gitu.. hehehe. Betapa indahnya, tinggal di negara yang masih memegang kultur, budaya, kekeluargaan, dan tepo seliro seperti di Indonesia. Tapi, betapa nyamannya juga.. tinggal di UAE yang sistemnya tertata. So, negara Republic Indonesian Emirates bakalan jadi negara yang T-O-P … sistem nya tertata tapi masih memegang kultur, budaya, kekeluargaan, dan tepo seliro … wuiih.. indahnyaaa…

Is it possible?

Merantau + Hamil

June 20, 2009

Maksud hati numpang suami yang lagi S2 di Australia sebenar-benarnya supaya bisa cari duit. Kalau bisa dapat dolar, kembali ke Indonesia kan lumayan tuh! Tapi yang namanya jalan hidup memang sulit untuk ditebak. Baru beberapa bulan bekerja di restoran Jepang yang super busy dan bermoto quick, quick, quick (satu customer, satu menit), tiba-tiba di suatu pagi yang cerah *ceilah* saya menemukan bahwa saya ternyata hamil.

Well, pertama kali tahu hamil itu karena saya melakukan self-test, alatnya beli di supermarket terdekat, dan harganya cukup mahal. Sekitar AU$ 10-an dapet satu biji. Ada merk lain yang lebih mahal lagi sekitar AU$ 25-an, pake sekali langsung buang, sayang kan?

Setelah self-test dan nggak yakin dengan hasilnya, saya pergi dengan suami ke klinik dekat kampus suami setelah pulang kerja. Sesampainya di klinik, petugas bertanya pada saya, mau diperiksa dokter cewek atau dokter cowok karena saya kan mau periksa kehamilan. Untuk seterusnya saya bakal diperiksa oleh dokter itu. Tentu saja saya pilih dokter cewek – middle age gitu, karena saya lihat dokter cowok yang berpraktek disitu dokter dari India, hehehe, bukannya saya rasis, tapi emang saya nggak mau tubuh saya bagian yang paling pribadi diutak-atik oleh pria lain! Jadi bukan karena dia dari India dan barangkali sambil meriksa sambil gedek.

Setelah disuruh kencing.. ya iyalah disuruh kencing, tahunya hamil atau enggak kan pakai urine.. hehehe. Dokter bilang positip tapi tetap disuruh ke RS untuk cek sekali lagi dan saya diberi semacam surat rujukan untuk ke rumah sakit itu. Di RS diperiksa lagi, hasilnya.. ya tetep positip lah.. udah dua kali cek gitu. Tapi selanjutnya dokter mengajukan pertanyaan yang menarik: “Do you want to keep it?” Maksudnya: “Mau dilanjutin ga??” Oh mennn.. tentu saja langsung saya jawab: “Of course!” Terus dalam hati saya tambahin: “Silly question.” Rupanya kalau kamu hamil terus diperiksa di RS, mereka bakal tanya hal serupa, karena disana aborsi itu legal adanya. Barangkali ketimbang terjadi mal praktek yang bisa bikin resiko kematian perempuan karena aborsi yang dilakukan sebagaimana mestinya.

Kemudian, mereka memberikan list makanan apa saja yang boleh dimakan dan yang harus dihindari. Yang jelas ada beberapa jenis keju yang sebaiknya tidak dikonsumsi selama hamil. Saya lupa nama-namanya, tapi saya sama sekali tidak keberatan dengan itu, karena saya tidak suka keju (mambu sikil, hehehe). Anehnya, disini enggak ada lho susu untuk ibu hamil. Saya cari sampai ke supermarket yang jualan produk-produk dari Indonesia juga enggak ada. Saya tanya sama teman saya orang Indonesia juga, yang sudah punya anak satu, dia bilang di Australia memang nggak ada. Sebagai gantinya dokter kasi vitamin-vitamin untuk diminum. Malah katanya dia pernah dengar (katanya lho ya) di Indonesia itu sejak maraknya susu untuk ibu hamil, tingkat autis meningkat. Tapi ini katanya lho. Saya nggak tahu yang sebenarnya. Jadi tiap hari saya minumnya susu cair biasa – yang memang dijual bebas di supermarket-supermarket situ.

Tetapi yang namanya hamil di Australia saat itu ada enaknya ada tidak enaknya.

Enaknya… kalau naik tram, tiba-tiba sudah ada yang berdiri kasi tempat duduk kalau kebetulan tempatnya penuh. Terus kalau lagi nunggu di tram stop juga gitu, kalau biasanya dilihat saya masih muda (dan jelita seperti ini hehehe) ya mereka yang biasanya tetap duduk aja di kursi tunggu, berdiri kasi tempat duduk. Terus pernah juga, seorang wanita muda menjauh dari saya karena rupanya dia hendak merokok (perhatian: rokok tidak baik untuk ibu hamil). Kalau di Indo mah mana peduli ya? Mau ada orang hamil kek, anak kecil kek, rokok terus kepul-kepul. Terus boss saya dan teman-teman yang di restoran Jepang juga perhatian banget. Berkali-kali kalau dilihat saya mengangkat sesuatu yang menurut saya masih bisa saya lakukan, mereka langsung ambil alih. Terus karena tiga bulan pertama saya nggak bisa makan nasi, saya nggak terlalu dapat kesulitan mencari makanan pengganti nasi.

Tidak enaknya.. waktu saya ngidam soto tauco (soto khas pekalongan), saya tidak mungkin bisa menemukannya disitu!!! Saya sempat cari tauco di supermarket Indonesia (asian grocery), nemu sih.. tapi enggak seenak tauco khas pekalongan. Mau ngirim.. haiya.. sampai di Australia barangkali sudah tidak hygienis lagi karena sudah diobok-obok petugas Australia. Terus pernah juga saya kepengen makan kepiting, lah enggak pernah belanja kepiting (dan kepiting disini – mentah ataupun matang – harganya tak murah), bingung saya cari kepiting yang kayak apa. Akhirnya saya nekad beli kepiting apapun yang harganya juga tidak terlalu mahal sambil berdoa. Kalau di Indonesia kan.. tinggal beli atau minta dimasakin aja.. hehehe.

Tapi hamil di luar negeri, jauh dari orang tua, menurut saya justru bikin saya lebih mandiri. Karena biar bagaimanapun, saya harus lakukan semuanya sendirian. Dan tiap hari-nya karena kemana-mana juga harus jalan kaki (nggak ada mobil, apalagi sepeda motor), jadi paling enggak badan tetap fit.

– Jessie

Merantau + Pizza

May 29, 2009

Si Mami baru datang dari “kota kecil” di Jawa Tengah ke Surabaya, mengunjungi anaknya di perantauan.

“Mau makan apa malam ini, Mam?”

“Terserah deh.”

“Ehm.. Mau pizza, Mam?”

“Pizza? Hmm.. nggak pake nasi dong yah..”

“Ya eyalah, Mam.. sejak kapan Pizza dimakan pake nasi?”

“Ya udah nggak papa makan pizza, tapi pulang dari situ cari makan lagi dong ya.”

“Hoh? Cari makan lagi? Kan udah makan pizza?”

“Iyah, tapi kan belum makan nasi…”

– Jessie

Barusan ngobrol sama temen yang istrinya lagi hamil tujuh bulan. Dia dihadapkan dengan pertanyaan klasik “Kepingin cowok atau cewek?” yang dijawab dengan jawaban klasik pula
“I prefer a boy,”
Karena penasaran (dan geram! Hehehe) aku cecar teman Filipinoku,
“Why you want a boy? A baby girl is not worth it?”
“No.. its not like that. A boy can taking care of his mom since I’m not there,” belanya.
“So?! A girl cannot do that?”
“Well… a boy can do better and stronger,”
“Proof it!”
“Ok, I will proof it to you someday,”

Yang namanya gender issues memang belum menghilang dari peredaran walaupun Ibu Kartini, Dewi Sartika, dan pahlawan-pahlawan wanita lain sudah berjuang demi kesetaraan gender sejak berpuluh-puluh tahun silam. Bagaimanapun kata ‘emansipasi wanita’ bergaung nyaring, definisinya pun masih sering disalahpahami.

Orang jawa bilang, wanita (atau istri dalam hal ini) adalah ‘konco wingking’. Lebih sebagai ‘brand ambassador’ daripada ‘brand’ itu sendiri.

Di negara-negara Arab, kebebasan seorang wanita sangat terbatas. Saudi Arabia terkenal paling kaku untuk masalah yang ini diantara negara-negara GCC lain. Para wanita dilarang keluar rumah tanpa pendamping muhrim (saudara pria). Wajib memakai abaya hitam. Tidak boleh ada Sales Girl, bahkan untuk lingerie sekalipun. Weleeh, lak yo sungkan tho… beli daleman dibantu Sales Boy! (lihat artikel ini http://archive.gulfnews.com/articles/09/03/27/10298708.html )

Saking ketatnya peraturan di Saudi, justru malah jadi salah kaprah. Pernah nih, ada berita di koran, seorang gadis di Saudi dihukum rajam karena diperkosa. Loh? Masalahnya, si gadis ‘dianggap’ menyalahi aturan karena keluar rumah dengan teman-temannya, yang juga ada teman prianya. Bagaimana dengan pemerkosanya? Tidak disebutkan apa hukumannya. Yang jelas kasus ini membuat heboh, sampai para feminist dari negara-negara lain bereaksi protes terhadap pemerintah Saudi.

Semakin kuat cengkeraman hukum Saudi, wanita-wanitanya justru semakin ingin keluar dari sangkar. Menurut cerita-cerita yang beredar, para penjaga perbatasan Saudi – UAE sering menemukan Abaya (jubah hitam untuk wanita) dibuang begitu saja. Sepertinya, UAE menjadi tempat pelarian bagi wanita-wanita ini untuk memakai pakaian biasa nan berwarna-warni, tak melulu hitam. Malah mungkin, baju-baju seksi… Nah loh! Jadi inget kata-kata bijak …. “pasir yang digenggam erat justru jatuh tak bersisa” . hmmm, mungkin ada benernya juga…

Selain Saudi, Afghanistan juga termasuk ekstrim memperlakukan wanita-wanitanya. Ada berita menyebutkan bahwa seorang wanita wajahnya disiram acid karena tidak memakai cadar! Sebegitunya!

Diantara negara-negara GCC (Gulf Cooperation Council: Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, dan the United Arab Emirates), sepertinya UAE yang paling bijak menangani masalah ini. Berbeda dengan Saudi, para ladies bukannya dibatasi kebebasannya… tetapi ‘diistimewakan’. Disetiap counter (apapun! Dari tiket konser sampai bayar telepon) selalu ada counter khusus wanita. Tempat duduk depan untuk bis kota diperuntukkan bagi wanita. Driving class, ada tempat khusus mendaftar dan kelas khusus untuk wanita. Pokoknya ‘ladies first’ dah!

Tetapi, bagaimanapun juga, yang namanya ‘battle of sexes’ dimana-mana tetap ada. Di satu sisi, chauvinism masih tetap dipegang teguh. Terutama untuk bidang-bidang tertentu yang umumnya dikuasai pria. Secara spesifik, IT. Seperti suatu hari, CV ku mendarat di salah satu perusahaan besar di bidang industri makanan. Kantornya di Dubai. Aku ditelepon untuk interview. Bersemangat, mulai deh.. nyiapin segala macam hal dari portfolio sampai baju. To my surprise, besoknya aku ditelepon lagi,

“Hi.. I’m from bla bla bla.. about your interview tomorrow. Sorry, it is cancelled. The manager tought that you are a male,”

Grrrhhh! Rasanya kepingin mendamprat si penelepon, “Are you blind or what?! Cant you see my picture with hijab thereee?!!” tapi nggak ada gunanya. Toh si penelepon juga cuma sekretaris. Sempet sih, setelah itu nangis sakit hati (kalau gini kelihatan ‘wanita’ nya… hahaha). But anyway, that’s life. Aku mengambil bidang ini dengan segala resikonya. Termasuk dianggap nggak qualified hanya gara-gara gender. Padahal aku juga biasanya terjun ke site office untuk network cabling, sementara rekan IT cowok duduk dengan nyaman di kantor. Hhhhhh. Nasib.

Nevertheless, di satu sisi lain, kadang wanita juga ‘memanfaatkan’ dengungnya emansipasi dan ungkapan ladies first. Contoh nih, waktu antri di lift. Lift untuk 8 orang cuma dua, padahal untuk gedung kantor 7 tingkat. Pagi selalu antri, belum lagi mepet mau telat. Sering nih, para wanita memanfaatkan dengan langsung merangsek ke depan dan masuk mendahului ke lift. Bisa kubayangkan, para pria yang kakinya udah pegel nunggu dari tadi pasti bete berat, tapi nggak bisa protes daripada dibilang nggak gentleman…. !! Hahaha.
Peristiwa lain lagi, mengenai barang bawaan. Sudah pemandangan biasa kalau para pria membawakan tas-tas belanjaan istri/gadisnya waktu jalan-jalan atau ke mall. Tapi ada satu hal yang sepertinya nggak pada tempatnya. Ada beberapa pria dari negara tertentu yang juga membawakan… tas tangan si wanita! Bisa dibayangkan, pria-pria macho menenteng tas mungil nan girly, sementara si wanita berjalan melenggang, tanpa bawaan! Temanku (cowok) bilang,
“What is this people? Don’t they have dignity?! I will never carry those girly bags!”
Aku nyengir, “Gimana kalau tasnya 2 kilo? kasihan kan?”
“The hell I care! Its your own fault, why you want to carry those?!”
Huahahaha… untuk hal ini, aku sependapat dengannya!

Bagaimanapun, beneran nih nggak bohong, aku bangga lihat wanita-wanita Indonesia. Baju tetap rapi dan sopan walaupun bergaya dengan bermacam-macam model dan warna. Wanita Indonesia berkarya di berbagai macam bidang. So ladies… bravo! Keep moving forward! (just don’t go over the limit, jangan lupa juga berterimakasihlah pada pendamping karena mereka pendukung anda nomer wahid!)

– Wuri

1. Most of Branded (and ridiculously expensive!) clothing are … MADE IN INDONESIA
(e.g. GAP, MARKS & SPENCER, GIORDANO, etc)

2. Indonesia is an Islamic country
Penjelasanku ke mereka: “No, its not an Islamic country although almost 80% are Muslims. We have 5 Major Religions…” bla bla bla… bla bla bla….

3. Most of Indonesian are speaking Arabic
Yang membuat mereka heran karena aku selalu bilang “Mafi Arabic,” = “No Arabic,”

4. Girl + jilbab + Indonesia = housemaid

5. Facts about TKW:

* Gaji TKW per bulan rata-rata sekitar 700 Dirhams (makanan + tempat tinggal disediakan)

* Jam kerja mereka hampir 24/7 dalam arti sebenarnya. Mereka tidur jam 2 pagi dan bangun jam 5 pagi (Jangan tanya kalau ada pesta dirumah si boss…)

* Para TKW sangat fasih berbahasa Arab (kecuali aku… hehehe)

* Indonesian housemaids are the most expensive of all!
Salah satu teman kerja bilang kalau untuk mengambil housemaid dari Indonesia mereka harus membayar ke agen sekitar 6000 Dirhams, sementara untuk negara-negara lain ‘hanya’ sekitar 3000-4000 Dirhams. Waktu aku tanya kenapa, mereka bilang kalau Indonesian housemaids are hardworker and obedient. Hmm…

6. Produk-produk Indofood hampir selalu ada di setiap supermarket.
Terutama Sambal ABC, Kecap Manis ABC, dan yang paling laris INDOMIE.

7. Produk2 Indofood dibuat dan dipack di Saudi Arabia.

8. Iklan Indomie hampir selalu ditayangkan di semua MBC/Middle East Broadcasting Center (MBC 1-4, MBC Action, MBC Max); juga di Stasiun Televisi India.

Iklan Indomie. Bintangnya orang India. Lihat aja, ada rasa Chicken Tikka! :p
KOMPETISI BERHADIAH! Jangan lewatkan! Terjemahkan Cooking Instructions diatas. 😀

by Wuri

Pernah dengar lagu-nya Koes Plus yang judulnya “Kolam Susu”? Liriknya ada yang ngomong gini:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman 

Lagu ini memang bicara tentang tanah Indonesia yang subur dan kaya. Makanya waktu itu penjajah kita betah betul deh tinggal di Indonesia. Bicara tentang tanah Indonesia yang subur dan kaya juga nggak lepas dari makanan khas Indonesia yang kaya rempah dan bumbu. Dari Sabang sampai Merauke, masing-masing daerahnya saja punya makanan khas sendiri-sendiri. Dan saya, yang lahir di Indonesia ini, tidak bisa hidup tanpa makanan Indonesia – yang berarti berbumbu banyak itu. Plus, selain itu, saya juga tidak bisa hidup tanpa sambal. Bukan sambal botol, tapi sambal terasi yang super pedas, dan kalau bisa.. semuanya mentah.

Ketika saya berangkat ke Melbourne, saya membawa cobek dan ABON. Untuk abon ini saya punya cerita lucu. Sekedar informasi, border security-nya bandara di Melbourne lumayan ketat. Waktu itu koper yang berisikan abon dicek oleh petugas – seorang wanita kulit putih, tinggi besar dan pirang. Dia bertanya: “What’s this?” Nah, ga mungkin kan saya jawab: “Abon, ma’am.” Saya jawab itu makanan yang dibuat dari daging sapi. Sedetik kemudian saya menyesal kenapa saya harus ngomong kalau abon itu berasal dari daging sapi. Karena apa? Karena setelah saya ngomong begitu, si petugas langsung mengambil sarung tangan plastik, mengaduk-aduknya dan mengendus baunya. Buset, pikir saya. Mana bisa dimakan lagi itu abon? 

Memasak adalah hal yang perlu dilakukan disitu jika ingin berhemat. Dan memasaknya pun jika betul-betul ingin berhemat, kalau boleh saya sarankan, janganlah memasak masakan Indonesia. Kenapa? Karena bumbunya banyak dan disitu HARGANYA MAHAL.

Kalau saya bilang mahal, itu berarti saya kurskan dengan rupiah. Pernah suatu hari, saya kepengen makan sambal saja dengan mentimun. Pergilah saya ke supermarket terdekat. Tapi yang namanya mentimun itu, satu bijinya seharga AU $ 1,95. Yang kalau dikurskan rupiah jadi Rp 13,650 (dengan kurs AU $ 1 = Rp 7,000). Kadang-kadang saya bisa dapat mentimun dengan harga AU$ 0.99, tapi harus menerima kalau kulitnya sudah sedikit berkeriput. Untuk cabe rawit, dijual 1 kg sekitar AU$ 13,95 (ampir seratus ribu rupiah tu!). Cabe yang biasa satu pak-nya seharga AU$ 4,95. Di supermarket situ, harga sewaktu-waktu bisa berubah. Sedangkan terasinya, saya bawa khusus dari Indonesia dan untungnya tidak ikut diaduk-aduk oleh si petugas di border security. 

Itu baru bahan-bahan untuk bikin sambal terasi dan mentimunnya saja. Saya pernah kepengen bikin sayur bening yang salah satu bahannya adalah: KUNCI. Kunci?? Apa bahasa inggrisnya kunci? Key? Kalau itu kan untuk bukain pintu yah? Karena nggak nemu, akhirnya batal bikin sayur bening, padahal sudah ngiler. Bawang merah juga sulit dicari, belum tentu di supermarket dekat tempat tinggal saya ada. Yang lebih sering ada tentu saja bawang putih dan bawang Bombay.

Suatu hari saya kepengen tempe goreng. Hmm.. makanan yang murah meriah bukan? Tapi rupanya tidak di Melbourne. Setelah cari tahu kemana tempe harus dibeli, saya baru ngeh kalau bahasa inggrisnya tempe adalah: soybean cake. Keren begete yah namanya kalau diinggrisin? Saya beli tempe ini di supermarket Indonesia (yang artinya jual barang-barang dari Indonesia). 

Tapi yang namanya tempe itu.. ajubileh.. kecil bukan main. Seingat saya, kalau saya beli di pasar tradisional di Surabaya, yang namanya tempe tu, segepok gitu cuma dua ribu perak ajah. Paling banter tiga ribu deh. Nah yang ini? Enggak sampe segepok kayak yang dijual di pasar tradisional Indo tuh harganya AU$ 4,95! Kok mahal yah? Gak jadi makanan yang murah meriah dong?

Tapi Tuhan memang baik. DilihatNya saya tak bisa bertahan tanpa makanan Indonesia, saya dikasi pekerjaan di restoran Indonesia. Restoran ini dulunya pernah buka di TP, yang punya juga orang Surabaya. Jadi restoran ini sedia makanan berupa: ayam penyet, tempet penyet, empal penyet, dan penyet-penyetan lainnya. Karena saya bekerja disitu dari jam 6 malem sampe jam 10 malem, saya dapat makan malam. 

Jadi hampir setiap hari saya bisa makan nasi ayam penyet – sambelnya udah diulegin, enak pula. Hehehe. Mau tahu harga ayam penyet di restoran ini? 
Ayam penyet $ 8.95
Empal penyet $ 8.95
Tempet penyet $ 7.95
Nasi putih $ 1.95
Sate ayam $ 9.95

Saya langsung mendelik melihat harga-harga di menu tersebut. Itu harga tahun 2006 loh, saya nggak tahu yang sekarang. Aje gile, anjrit *kata orang Jakarte ye?*, jan***, bajigur.. huahhhh.. dan untuk pertama kalinya saya merasa beruntung sekali tinggal di Indonesia yang makanannya kaya rasa, kaya bumbu dan bisa didapat dengan harga terjangkau.

Makanya saya langsung ingat lagunya Koes Plus. Karena saya setuju banget dengan apa yang mereka lagukan. Tanah kita, Indonesia, jelas subur, saking suburnya barangkali tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Sayangnya, tanah itu sekarang lebih banyak ditindih bangunan daripada ditanami pohon-pohon.

by Jessie

Mumpung loro (Sakit) dan ijin mbolos ngantor, tak nulis meneh. Nulis crito jaman mbiyen awal2 neng mbandung ae. Nostalgia..

7 Agustus 96. Iki pertama kaline aku metu teko jawa timur. Wolulas taun urip neng suroboyo karo bapak ibuku, sakjek ndumbleg gak tau aku lungo sampek metu batas propinsi. Mung pisan pas lulusan smp ono tour nang borobudur karo yogja. Iku rasane koyo ndelok suargo. Hehe… Iki jalaran bapak ibu gak duwe budaya dolan. Gak seneng mlaku-mlaku. Nek arep lungo kakean sing dipikir. Mikir duit sangu (sing pancen ga ono sangune, :p), mikir omah wedi banjir, mikir wedi neng ndalan, sampek bapak sing kuatir kangelan golek wc umum. Dasare pancen wis sepuh. Lah mergo budaya iku, sampek saiki aku durung tau ngerti rupane gunung bromo, sengkaling, pasir putih, tanjung kodok, watu ulo, nggon wisata neng jawa timur.

7 Agustus 96. Pas dino iku aku nganggo kaos lengen dowo werno krem. Klambi terakir sing taknggo sakdurunge budhal numpak mutiara selatan nang mbandung. Pirang dino sakdurunge aku budhal ibuku wis mbrebes mili ae mripate. Yo, peno bayangno ae. Anak mulai cilik gak tau adoh soko wong tuwo, moro-moro pengen sekolah adoh.

7 Agustus 96. Neng stasiun Gubeng aku ninggalno Suroboyo, susuhku. Ibuku nangis nggugug. Anak cilik kuru pingin nuruti karepe dewe. Klambi kaos lengen dowo werno krem iku disimpen karo ibuk, gak diumbah.

Ben dino diambungi. Cikno eling karo aku jarene..

by Meon.

Hidup di perantauan tuh susahnya kalau pas bete. Why oh why? Soalnya nggak ada ‘tempat sampah’ ‘buat curhat!

Mau ngobrol sama sesama perantau, jadinya malah kayak main badminton. Kalau ‘cock’ curhatnya di-smes sama lawan main, yo wis. Nggak jadi dapet solusi. Apalagi kalau straight set! Hahaha… Kepenginnya mau curhat biar dapat pencerahan lah kok harus malah jadi pendengar.

Nyari temen curhat yang bener-bener ‘click’ memang seperti nyari jarum ditumpukan jarum lain. Dari semua jarum, harus dicoba satu-satu mana yang paling OK, iya tho? Mau telepon ke keluarga, well.. its not a good idea. Daripada keluarga malah jadi kepikiran.

Tapi, seperti yang kubilang dulu, hidup merantau mau nggak mau harus dibarengi kecuekan kelas super (tapi bukan berarti juga jadi nggak care sama yang lain). Kadang, kalau pas yang namanya kekesalan & kegelisahan hati sudah sampai leher, no other way, just let it out baby! Saking melubernya sampai nggak peduli kalau si pendengar udah eneg ndengerin. Beginilah proses ’empty recycle bin’ untuk para perantau… hehehe

Gara-gara proses curhat-curhatan ini, nggak jarang juga ujung-ujungnya malah berabe. Yang punya keluarga dirumah justru malah menemukan ‘keluarga’ lain. Nah lho! Jadinya sering banget ada dialog,

“Wait a second, si A tuh katanya udah married di kampung halaman? Yang digandeng tuh siapa terus?”
“Tauk, temen kantor sih katanya,”
“Temen kantor kok mesra amir?”
Gosip.. gosip.. gosip… another badminton set!

Kayaknya, lagu DIRANTAU punya KAHITNA tidak bisa dipercaya.

DIRANTAU (KAHITNA)
Adik ingat saja pesan abang tadi malam
Abang pasti pulang tiada lama pasti datang
Jangan pikir De` abang kan selingkuh
Jika pulang kan pinang dirimu

Adik ingat saja pesan abang tadi malam
Bulan jadi saksi untuk cinta yang tergenggam
Tak akan ada wajah elok lain
Kusimpan habis hatiku untukmu

Yakinkan langkah abang di rantau
Bukan hanya menafsir dunia

(pesan abang..) Pesan abang..
(pesan abang..)Adik setia menanti..
(Janji abang..) Janji abang..
Walau bumi bergoyang cinta
Tak pernah goyah selamanya..

Adik ingat saja pesan abang tadi malam
Bulan jadi saksi untuk cinta yang tergenggam
Takkan ada wajah elok lain
Kusimpan habis hatiku untukmu

Pertanyaanku buat Kahitna: Are you sureeee?

———-
Wuri
Abu Dhabi – 260904

by Mon + Nyonk

Tips 1:
Beli roti tawar sebungkus Rp. 6.700 bisa buat tiga kali sarapan. Kalo ada duit lebih, boleh dibeliin selai yang murah-murah. Kalo ga ada duit lebih, roti tawar polos rasanya juga enak!

Tips 2:
Beli pisang untuk sarapan. Selain enak dan mengenyangkan di pagi hari, pisang juga sangat bergizi dan memperlancar proses pembuangan. 1 sisir pisang raja harganya Rp. 7.000 (beli di pasar, jangan di supermarket – harganya bisa 2,5 kali lipat). 1 sisir bisa untuk 3 hari. Tiap pagi makan 5 buah. Jangan disimpan lebih dari 3 hari nanti terlalu matang dan jadi tidak enak.

Tips 3:
Jelajahi makanan super murah! Memang tampaknya ini tips yang susah karena harga makanan makin naik aja. Tapi kalo kita mau eksplorasi dan ngga malu tanya temen-temen kos, ada aja kok makanan murah di mana-mana.

Bukti: Nyonk sarapan nasi bungkus enak Rp. 3.000.

Nyonk makan siang babi guling lengkap Rp. 6.000.

Kalo bosan babi guling, Nyonk makan siang nasi campur Rp. 5.000.

Nyonk makan malam nasi babi Rp. 5.000.

Kalo bosan makan babi terus, ada sate ayam plus lontong, nasi liwet, atau nasi lawar Rp. 6.000

Soto ayam juga cuma Rp. 5.000 sahaja, tapi jangan harap dapat kuah kuning penuh rempah-rempah seperti di Jawa Timur. Soto di sini bening cling.

Tapi soal gizinya, errr…

Dan soal kebersihannya, errr…

Yah judulnya aja makan murah, kenyang, dan enak, bukan makan bergizi dan bersih. 😀

Tips 4:
Kalo ke warung, bawa minum sendiri dari rumah 😀 Kalo malu, bungkus aja makanannya, dibawa pulang hehehe..

“Tapi entar kalo Mon makan ke sini aku ajak makan steak deh, di tempat yang banyak bulenya. Di Poppies 1, Bamboo Corner namanya. Tapi tetep aja, murah abis!”

*Profile Mon + Nyonk
Mon: cewek 26 tahun, pegawai swasta di Surabaya, pacarnya Nyonk.
Nyonk: cowok 27 tahun, arsitek yang merantau di Bali, pacarnya Mon.

————————–
http://merantautheseries.wordpress.com
100% Real. 100% Fiksi